Rabu, 23 Maret 2011

Perilaku Manusia Dapat Mengubah Bumi


Akibat yang ditimbulkan oleh menurunnya kualitas lingkungan di Indonesia yaitu, sering terjadi banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Selain hal tersebut air bersih menjadi sulit diperoleh, pencemaran udara, dan penumpukan sampah semakin meningkat. Permasalahan tersebut hampir terjadi di setiap wilayah, lebih-lebih di perkotaan seperti halnya di kota Bandung.
Penurunan kualitas lingkungan yang diakibatkan baik secara sengaja oleh perilaku manusia ataupun terjadi secara alamiah, akan berpengaruh pada manusia itu sendiri. Hal ini terjadi karena manusia merupakan bagian dari lingkungan dimana manusia tersebut tinggal. Faktor alam mungkin sulit untuk dicegah, tetapi perilaku manusia masih berpeluang untuk diubah.

Selasa, 14 September 2010

Sekolah Hijau apakah hasil Pembelajaran PLH?


Pertanyaan itu yang kupikirkan selama ini.
Banyak orang berpendapat dengan banyaknya tumbuhan dan rimbunnya suatu kawasan di persekolahan itu merupakan suatu keberhasilan pembelajaran PLH, namun bukan demikian sebenarnya. Justru pembelajaran PLH yang berhasil adalah dapat merubah perilaku peserta didiknya, dari yang tidak peduli terhadap lingkungan berubah menjadi peduli terhadap lingkungan disekitarnya. Hal ini sesuai dengan pendapat beberapa ahli pendidikan seperti Bloom dan Gagne. Perubahan perilaku yang dimaksud adalah dari domain kognitif, afektif dan atau psikomotor.

"HIJAU" bukan berarti menanam dan menanam pohon, namun yang hijau adalah pengetahuan, sikap serta aktifitas peserta didik dalam menyikapi permasalahan lingkungan global maupun lokal. Memang menanam tumbuhan adalah perilaku yang peduli terhadap lingkungan, namun sekarang hanya sebatas simbol saja. bagaimana dengan P4LH nya? Apakah setelah menanam dilanjutkan dengan pemeliharaan dan pengawasan? atau hanya sebatas menanam saja?
Marilah kita pikirkan bersama dan bagaimana menyikapinya?

Kamis, 12 Agustus 2010

Paperless Generation-OLC4TPD


Orang-orang yang peduli lingkungan sekarang-sekarang ini sering menyebut istilah "paperless generation" baik itu pada moment resmi misalnya pada kegiatan seminar, di depan kelas atau hanya bincang-bincang ringan.
Sebenarnya apa sih "paperless generation"? menurut pengertiaannya adalah generasi yang tanpa menggunakan/memakai kertas, namun pada kenyataannya hal tersebut tidak mungkin.Hal yang memungkinkan adalah dengan cara mengurangi kertas (saya lebih setuju itu).
Apakah kita sebagai guru dapat menjadi bagian dari generasi tersebut? jawabannya adalah bisa.Bagaimana mewujudkannya? Bila kita sebagai guru dan tugas utama guru adalah mengajar di kelas, nah ini waktu yang tepat untuk ber paperless. Bentuknya diantaranya adalah:
1. Ulangan harian soal dibuat di dalam blog, para siswa dapat membukanya kapan saja dan menjawabnya melalui email kita (no paper).
2. Tugas tersturktur atau tugas mandiri dapat di tulis juga di dalam blok kita, jawabannya langsung di bagian komentarnya. (no paper)
Bagaimana bila ingin bertukar pikiran (formal (seminar/non formal hanya berbincang-bincang)dengan teman-teman guru yang lain baik itu di lingkungan sekitar kita ataupun dengan yang jauh disana? Ternyata sudah terjawab dengan adanya forum OLC4TPD yang mewadahi para pendidik (guru, kepala sekolah, Pengawas atau Dosen) untuk bergabung disana tanpa menggunakan kertas sehelaipun. (no paper)
Ternyata di bidang pendidikanpun sudah mulai berlaku perilaku ramah lingkungan. Justru menurut saya dengan keteladanan dari para pendidiklah maka akan terbentuk perilaku-perilaku yang ramah lingkungan, sehingga bumi kita terselamatkan dari bencana, Amin.

Senin, 02 Agustus 2010

BIOGEOGRAFI-2


Permasalahan lingkungan baik secara global ataupun lokal akan berdampak pada lingkungan sekitarnya.
Permasalahan lingkungan di Jawa Barat diantaranya adalah banjir termasuk didalamnya di kota Bandung, hal tersebut terjadi karena berkurangnya RTH.
1. Apakah RTH itu?
2. Apakah ada cara lain menyiasati hal tersebut?
3. Adakah cara yang paling sederhana untuk menanggulangi banjir di kota bandung, khususnya di lingkungan SMAN 9 Bandung?

Jumat, 23 Juli 2010

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)

Manusia atau dalam bahasa latin disebut Homo sapiens yang artinya adalah manusia bijaksana. Bagaimana kepedulian manusia (kita) terhadap lingkungan? Apakah ada andil dari perkembangan IPTEK baik secara global ataupun lokal untuk kawasan Jawa Barat, khususnya kota Bandung?
Banyak permasalahan lingkungan yang dihadapi warga kota Bandung, diantaranya adalah sampah yang belum terfasilitasi pembuangannya ataupun banyaknya kendaraan berlabel B berseliweran di kota Bandung, apakah ada IPTEK yang ramah lingkungan? bagaimana menjelaskannya?Apa penjelasan Anda?

Biogeografi Prov. Jabar

Jawa Barat merupakan kawasan daerah pegunungan, namun bila musim hujan tiba dapat dipastikan BANJIR dan bila musim kemarau kebalikannya yaitu untuk mendapatkan air bersih harus antri. Mengapa terjadi demikian? Apa yang menjadi argumen Anda dari kejadian tersebut?

Lesson Study-Kota Bandung


Lesson Study (LS) bukan merupakan istilah yang baru bagi kaum pendidik (guru). Istilah ini mulai diperkenalkan pada tahun 2005 oleh FPMIPA-UPI yang bekerjasama dengan IMSTEP-JICA. Di negara asalnya pun (Jepang) kegiatan ini sudah lama dilakukan. LS merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan mutu pembelajaran melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning, sedangkan di negara asalnya LS merupakan model pembinaan (pelatihan) guru secara berkelanjutan secara konsisten sejk seabad lalu (Supriatna, dkk: 2010). jadi LS bukan merupakan model/ strategi ataupun suatu metode pembelajaran.
Jenis LS yang sudah dikembangkan di dua kabupaten yaitu Sumedang dan Karawang yaitu LS berbasis MGMP. sedangkan di 4 kota/kab. (kota Bandung, kab. bandung, Kab. Bandung Barat dan Kab. Subang)sekarang ini untuk tingkat SMP berupa LS berbasis MGMP dan tingat SMA LS Berbasis Sekolah (LSBS).
Kegiatan open lesson pertama di kota Bandung dilaksanakan di SMAN 9 Bandung pada tanggal 16 Juli 2010 dengan guru modelnya adalah Ibu Tati Hermawati (Materi Jaringan tumbuhan mata pelajaran Biologi) sedangkan peserta didiknya adalah kelas khusus berdasarkan minat dan bakat ke IPA.